Pagi itu aku ada jadwal kuliah pagi. Seperti biasa aku bangun jam 5 pagi. Namun pagi itu ada yang tidak biasa, hampir semua stasiun televisi menayangkan topik berita yang sama, jebolnya situ Gintung.
Dan jujur, selama kurang lebih 4 tahun menetap di Lebak Bulus, aku sama sekali tidak mengetahui bahwa disekitar situ ada danau (situ) yang dijadikan obyek wisata keluarga. Untuk pertama kalinya mengetahui bahwa di Gintung terdapat danau obyek wisata, ya dari berita pagi itu. Tragis memang, pertama mengetahui ada obyek wisata yang lumayan dekat, tapi kondisinya saat itu sudah jebol.
Pada saat mengikuti berita di televisi, aku sama sekali tidak berprasangka bahwa tragedi tersebut merupakan tragedi besar, yang menelan ratusan korban jiwa. Saat itu yang terpikir, aku harus segera bersiap untuk kelas pagi.
Aku berangkat kuliah dengan diantar suami. Sepanjang jalan menuju kampus, suasana sudah mulai padat dan banyak mobil stasiun televisi yang berlalu lalang. Saat itu aku masih belum menduga terlalu jauh. Hingga akhirnya aku sampai di kampus, dan ternyata tragedi situ Gintung jauh lebih mengerikan (buat aku khususnya) daripada yang ada di televisi.
Kampusku yang kebetulan berada di dataran lebih tinggi, tidak sampai terkena banjir. Hanya sedikit bagian yang terkena, dan itupun tidak sampai parah.
Ketika aku sampai di kampus, suasana sudah mulai ramai oleh masyarakat yang hendak melihat secara langsung kondisi korban. Sebagian dari mereka adalah bagian keluarga korban, yang masih berusaha mencari anggota keluarganya yang hilang.
Aku melihat banyak jenazah yang terbaring di lobby kampus. Dada ini terasa sesak menahan tangis yang hendak meledak. Melihat bocah-bocah yang tak berdosa, terbaring kaku, dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Ada jenazah bapak-bapak yang kemudian digotong oleh (mungkin) salah satu anaknya yang selamat. Kondisi jenazah bapak-bapak itu sudah membiru, dengan pakaian yang terkoyak-koyak. Hanya ditutup dengan kain seadanya.
Tanpa terasa airmata telah deras mengalir di pipi, tanpa suara. Menyadari hal itu, aku bergegas minta di antar pulang lagi. Aku kontak teman-teman kampus, sahabat-sahabat untuk menggalang bantuan sesegera mungkin.
Saat terjadi bencana itu, perkuliahan diliburkan, karena kampus dijadikan posko penyelamatan. Dengan demikian aku bisa lebih leluasa menggalang bantuan dari rekan-rekan. Bantuan yang terkumpul cukup lumayan saat itu. Ada yang membantu bahan makanan, pakaian layak pakai, ada juga yang membantu dengan uang.
Pada waktu itu, arus lalu lintas Lebak Bulus, Pondok Pinang, Rempoa, Ciputat dan sekitarnya macet total. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat dari luar daerah yang berbondong-bondong hendak menyaksikan secara langsung kondisi situ yang jebol. Jujur saja, hal ini terasa menyulitkan relawan yang hendak melakukan pertolongan. Membawa amanah bantuan yang harus di serahkan, dengan kondisi jalan yang pamer paha (padat merayap tanpa harapan) ternyata cukup menguras kesabaran.
Ketika pada akhirnya sampai di posko, temen-temen yang sedianya membantu mengangkut kardus-kardus bantuan ke sekretariat, ternyata sudah pulang. Gara-gara menunggu aku yang terjebak dijalan berjam-jam, tidak kunjung sampai. Bisa dibayangkan, dengan kondisi normal, perjalanan dari rumah di Pasar Jum’at ke kampus bisa di tempuh dengan waktu hanya 5 menit. Tapi pada saat itu, perjalanan terpaksa harus ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Meskipun begitu, aku harus bersyukur, karena kalau dibandingkan dengan para korban bencana jebolnya situ Gintung itu, apa yang aku alami itu belum ada apa-apanya.
Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Begitu pula dengan tragedi jebolnya situ Gintung. Banyak hikmahnya, terutama buat aku, juga buat kita semua. Hal positif yang bisa di ambil, semakin eratnya tali kebersamaan, tenggang rasa, tepo seliro. Semakin mempertebal rasa berbagi, mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur atas apa yang diterima, apapun itu. Dan aku menjadi tau kalau di daerah Gintung itu, ada obyek wisata keluarga yang potensial apabila dikelola dengan bijak. Semoga kita semua selalu diberi kesadaran untuk selalu bersyukur. Semoga.