Thu
21
3:21 pm

Kenapa setiap kali ingin kutuangkan apa yang ada di otakku ke dalam tulisan, selalu mandeg ?? selalu mentok dan mampet ??

Padahal ada begitu banyak cerita yang ingin ku bagi, tapi hanya mampu sebaris dua baris.. setelah itu mampet, buntu.

Mudah-mudahan ini hanya efek dari kesibukan yang ada saat ini saja. Dan mudah-mudahan tidak buntu karena sudah buntu yang benar-benar buntu.

**Edisi kangen nulis

Pagi itu aku ada jadwal kuliah pagi. Seperti biasa aku bangun jam 5 pagi. Namun pagi itu ada yang tidak biasa, hampir semua stasiun televisi menayangkan topik berita yang sama, jebolnya situ Gintung.

Dan jujur, selama kurang lebih 4 tahun menetap di Lebak Bulus, aku sama sekali tidak mengetahui bahwa disekitar situ ada danau (situ) yang dijadikan obyek wisata keluarga. Untuk pertama kalinya mengetahui bahwa di Gintung terdapat danau obyek wisata, ya dari berita pagi itu. Tragis memang, pertama mengetahui ada obyek wisata yang lumayan dekat, tapi kondisinya saat itu sudah jebol.

Pada saat mengikuti berita di televisi, aku sama sekali tidak berprasangka bahwa tragedi tersebut merupakan tragedi besar, yang menelan ratusan korban jiwa. Saat itu yang terpikir, aku harus segera bersiap untuk kelas pagi.

Aku berangkat kuliah dengan diantar suami. Sepanjang jalan menuju kampus, suasana sudah mulai padat dan banyak mobil stasiun televisi yang berlalu lalang. Saat itu aku masih belum menduga terlalu jauh. Hingga akhirnya aku sampai di kampus, dan ternyata tragedi situ Gintung jauh lebih mengerikan (buat aku khususnya) daripada yang ada di televisi.

Kampusku yang kebetulan berada di dataran lebih tinggi, tidak sampai terkena banjir. Hanya sedikit bagian yang terkena, dan itupun tidak sampai parah.

Ketika aku sampai di kampus, suasana sudah mulai ramai oleh masyarakat yang hendak melihat secara langsung kondisi korban. Sebagian dari mereka adalah bagian keluarga korban, yang masih berusaha mencari anggota keluarganya yang hilang.

Aku melihat banyak jenazah yang terbaring di lobby kampus. Dada ini terasa sesak menahan tangis yang hendak meledak. Melihat bocah-bocah yang tak berdosa, terbaring kaku, dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Ada jenazah bapak-bapak yang kemudian digotong oleh (mungkin) salah satu anaknya yang selamat. Kondisi jenazah bapak-bapak itu sudah membiru, dengan pakaian yang terkoyak-koyak. Hanya ditutup dengan kain seadanya.

Tanpa terasa airmata telah deras mengalir di pipi, tanpa suara. Menyadari hal itu, aku bergegas minta di antar pulang lagi. Aku kontak teman-teman kampus, sahabat-sahabat untuk menggalang bantuan sesegera mungkin.

Saat terjadi bencana itu, perkuliahan diliburkan, karena kampus dijadikan posko penyelamatan. Dengan demikian aku bisa lebih leluasa menggalang bantuan dari rekan-rekan. Bantuan yang terkumpul cukup lumayan saat itu. Ada yang membantu bahan makanan, pakaian layak pakai, ada juga yang membantu dengan uang.

Pada waktu itu, arus lalu lintas Lebak Bulus, Pondok Pinang, Rempoa, Ciputat dan sekitarnya macet total. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat dari luar daerah yang berbondong-bondong hendak menyaksikan secara langsung kondisi situ yang jebol. Jujur saja, hal ini terasa menyulitkan relawan yang hendak melakukan pertolongan. Membawa amanah bantuan yang harus di serahkan, dengan kondisi jalan yang pamer paha (padat merayap tanpa harapan) ternyata cukup menguras kesabaran.

Ketika pada akhirnya sampai di posko, temen-temen yang sedianya membantu mengangkut kardus-kardus bantuan ke sekretariat, ternyata sudah pulang. Gara-gara menunggu aku yang terjebak dijalan berjam-jam, tidak kunjung sampai. Bisa dibayangkan, dengan kondisi normal, perjalanan dari rumah di Pasar Jum’at ke kampus bisa di tempuh dengan waktu hanya 5 menit. Tapi pada saat itu, perjalanan terpaksa harus ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Meskipun begitu, aku harus bersyukur, karena kalau dibandingkan dengan para korban bencana jebolnya situ Gintung itu, apa yang aku alami itu belum ada apa-apanya.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Begitu pula dengan tragedi jebolnya situ Gintung. Banyak hikmahnya, terutama buat aku, juga buat kita semua. Hal positif yang bisa di ambil, semakin eratnya tali kebersamaan, tenggang rasa, tepo seliro. Semakin mempertebal rasa berbagi, mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur atas apa yang diterima, apapun itu. Dan aku menjadi tau kalau di daerah Gintung itu, ada obyek wisata keluarga yang potensial apabila dikelola dengan bijak. Semoga kita semua selalu diberi kesadaran untuk selalu bersyukur. Semoga.

Wed
10
3:06 pm

Rasa…
Aku mengenali rasa ini
Rasa yang dulu sempat hadir
Rasa yang dulu tumbuh untuk kemudian layu.. mengering
Rasa yang aku sangka telah mati mengering

Rasa…
Mengapa baru sekarang kau datang kembali
Mencabik
Mengoyak tanpa ampun
Asa yang telah berbunga

Rasa…
Cukuplah kamu sampai di situ
Aku tidak mengharapkanmu lebih dari itu
Cukuplah kau koyak asa indah itu
Jangan jua kau koyak diriku

Rasa…
Biarkan aku mengenangmu cukup sebagai itu
Biarkan aku lepas… bebas setinggi awan
Biarkan aku membangun indahnya asa baru istanaku

Menjelang senja, 10.11.10

Wed
15
5:57 pm

lagi pengen ngumpulin lagi archive tulisan-tulisan dari jaman baheula, jaman lugu-lugunya, jaman masih culun-culunnya blajar ngeblog.

alhamdulillah sebagian masih terselamatkan, tapi banyak juga yang akhirnya gone with the air T_T
sebenernya masih pengen nerusin nulis-nulis di blog2 itu, tapi ternyata banyak yang accountku udah di hapus dari databasenya. Ya sutra lah… emang kelamaan gak diupdate sih, makanya dibuang-buangin sama adminnya. nyampah aja kali ya hehehe.

sekarang mah nitip dulu alamat-alamatnya, besok2 kalo ada waktu mo di revisi dan di repost :D

http://www.bloggaul.com/loiyloi/

http://yannadhani.blog.friendster.com/

http://www.blogboleh.com/loiy

http://loiymboel.multiply.com/

http://loiy-annie.blogspot.com/

Tue
31
8:42 pm

Agustus tahun ini bener-bener merupakan agustus paling indah, paling istimewa, paling special, paling… ahhh susah mencari kosakata yang dapat menggambarkan betapa berartinya bulan agustus tahun ini.
Segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan. Terdapat banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa kita serap, apabila kita peka untuk merasakannya.
Setiap pengalaman adalah petualangan. So.. just enjoy every moment.. every second of life.

Mon
16
5:54 am

Alhamdulillah.. sampai rumah dengan selamat. Rute test drive perdana Rempoa – Pdk Labu telah sukses dilakukan dengan hasil :

- Kecepatan kendaraan maksimal cuma 30 Km/jam.
- Jarak tempuh dalam kondisi normal bisa dicapai dalam waktu 30 menit, sekarang menjadi +- 60 menit.
- Setiap ada polisi tidur, gundukan atau jalan rusak, kecepatan menurun sampai 10 km/jam.
- Setiap ada polisi tidur, gundukan atau jalan rusak, terdengar alarm “aduuhh” atau “aaww”, yang kemudian diganti dengan “awas tinggi” atau “awas lubang”.
- Masih kagok gara-gara masih harus menyesuaikan kaki kiri sopir gak nyenggol kaki kiri penumpang, otherwise pasti alarm “aduuhh” berbunyi.
- Masih sering terjadi gontok-gontokan dalam rangka penyesuaian style nyetir.
- Selamat to dear hubby Judi ‘mboel’ Sulistiono, meski kakinya jadi capek bin pegel2, jangan kapok yaa..
- Thanks a lot to my sist Endah Widayati & brother Dani Ardiansyah untuk surprise bukbernya :p

Katanya.. dibalik kesuksesan seorang laki-laki (suami), tidak lepas dari dukungan seorang wanita (istri). Dan sepertinya saya sudah demikian termakan pepatah itu. Saya begitu terobsesi membuat pasangan saya untuk ‘berjalan lebih cepat’, bahkan kalau perlu berlari cepat. Bisa dibayangkan kan.. sudah berlari, harus cepat pula. Untuk seseorang yang notabene terbiasa berjalan santai (pelan), tentunya hal ini cukup mengagetkan. Perlu effort yang besar untuk menyesuaikan.

Seperti umumnya pasangan baru lainnya -meskipun kami tidak bisa dibilang baru lagi-,  yang masih membutuhkan adaptasi dan pembenahan disana sini, demikian juga kami. Pada saat saya mengetahui bahwa pasangan saya mengalami  krisis kepercayaan diri untuk ‘menaklukkan’ ibukota (sementara kami harus menetap di ibukota), keinginan untuk membangkitkan kepercayaan diri pasangan tentu menjadi obsesi saya.

Menurut hemat saya, seseorang akan percaya diri apabila dia mengetahui banyak hal. Meskipun tidak sepenuhnya dari faktor tersebut, paling tidak dengan banyak tau akan memudahkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Banyak hal yang bisa dibicarakan, tidak akan mati gaya, yang pada akhirnya akan membuat lebih percaya diri. Untuk itu saya sering ‘memaksa’ pasangan saya untuk suka membaca, meskipun dia tidak begitu suka membaca. Dan ternyata perlu waktu dan kesabaran yang ekstra.

Semenjak pasangan saya mengalami kecelakaan tiga minggu yang lalu yang mengakibatkan kaki kirinya patah, banyak hal yang membuat saya menyadari sesuatu. Dari perbincangan dengan seorang sahabat yang juga seorang suhu ;) , akhirnya saya menyadari bahwa yang dibutuhkan pasangan untuk memperoleh kehidupan yang lebih berkualitas itu adalah kekompakan.

Selama ini mungkin kami kurang kompak, sampai harus diingatkan untuk lebih kompak melalui  kecelakaan yang dialami pasangan saya. Seperti yang dikatakan sahabat suhu saya itu, kecelakaan ini hanya sebuah isyarat. Isyarat bahwa ada yang harus diperlambat atau dipercepat. Saya jadi ingat bahwa yang menginginkan untuk cepat itu saya, sementara untuk keinginan tersebut saya memaksa pasangan saya untuk mensejajarkan diri dengan saya. Saya sendiri belum tau persis hikmah dari kecelakaan itu apa, tapi saya yakin pasti ada banyak hal yang bisa saya ambil.        

Untuk sementara yang saya pahami, kami memang harus terpelanting untuk bisa melambung tinggi, sama halnya dengan bola bekel yang harus dibanting keras agar bisa melambung tinggi. Kami harus mundur sejenak untuk kemudian melesat jauh kedepan, sama halnya dengan batu dalam ketapel, harus ditarik mundur untuk bisa melesat jauh kedepan.

Istirahat bukan berarti berhenti, namun mengumpulkan tenaga untuk perjalanan yang lebih jauh.

Gara-gara tukang sayur di komplek rumah yang datangnya sesuka hatinya, kadang membuat aku harus lebih kreatif mengolah bahan makanan seadanya dirumah, menjadi hidangan yang -tentunya- istimewa. Apalagi sekarang dengan kondisi suami yang lagi banyak pantangan makanan, kadang suka bingung milih menu yang pas.

Karena stok bahan makanan dirumah udah abis, yang ada tinggal telur, tomat dan bawang bombay, maka jadilah hidangan sederhana tapi sehat. Pilihan menu yang simple, praktis dan cepat masaknya.

– Scramble egg with onion and tomato–

Bahan yang dibutuhkan :

- 5 butir telur (bisa kurang, bisa lebih sesuai selera)

- Bawang bombay 2 (ukuran sedang), cincang kasar.

- Bawang putih 6 butir, cincang halus.

- Tomat 2 buah, potong dadu.

- Lada hitam secukupnya.

- Garam secukupnya.

- Gula secukupnya.

- Cabe rawit (kalau suka) sesuai selera, cincang kasar.

Read the rest of this entry »

Sejak suami kecelakaan april kemaren, yang akhirnya mengharuskan dia pantang makan beberapa jenis makanan, akhirnya sempet bikin bingung juga mo masakin apa. Tapi alhamdulillah untuk daging sapi masih diperbolehkan. Gak kebayang kalau daging juga harus dilarang. Paling banter dikasih tahu tempe aja tiap hari hehehe.

Satu minggu pertama pasca kecelakaan, aku cuman masakin tempe sama sayur bening aja tiap hari. Meski tempenya dimasak dalam beberapa variasi, ternyata tetep saja bikin bosen makannya. Sebagai selingan aku belikan bakso. Makan bakso juga gak bertahan lama, karena bosen juga.

Akhirnya kemaren pas belanja bulanan ke supermarket, sekalian belanja sayur dan daging. Dan kepikir buat masak taoge, yang kebetulan jenis sayur kesukaan suami. Berikut resep sederhana yang gampang masaknya.

–Minced beef in been sprout and kucai–

Bahan yang diperlukan : Taoge secukupnya, daging sapi giling 1/4 kg, kucai secukupnya, bawang putih (cincang kasar), jahe (keprek), lada hitam secukupnya, gula secukupnya, garam secukupnya, kecap asin 2 sdm, kecap manis 1 sdm, tepung jagung secukupnya.

Cara masak :

Read the rest of this entry »

Thu
6
7:56 am

Bulan april tahun ini begitu berwarna buat aku. Banyak hal dan peristiwa yang terjadi, yang pada akhirnya sedikit merubah pola pikirku.

Tanggal 24 april, aku dikukuhkan sebagai seorang sarjana dengan menyandang predikat lulus dengan pujian. Alhamdulillah. Salah satu pencapaian yang cukup membanggakan buat aku, suami, juga orang tua.

Selang lima hari kemudian, tanggal 29 april, my beloved husband, mengalami kecelakaan yang berakibat kaki kirinya patah. Hal ini mengharuskan dia totally bed rest.

Aku tidak memandang ini sebagai musibah. Mungkin ini salah satu cara Allah dalam menjawab doa-doa kami. Allah lebih tau apa yang sebenarnya kita butuhkan. Dan aku yakin, ada something yang bisa aku ambil dari peristiwa ini. Dan semoga aku tidak terlambat untuk menyadarinya. Semoga.