MboeLoiy

Until The End of Time ….

Apr 19

Berkualitas tak selalu harus mahal

Category: Cerita harian

Ceritanya Sabtu kemaren kami -aku dan suami-  keliling Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Karena aku selalu menolak ketika ditawari untuk jalan-jalan dimall, akhirnya muter-muter aja ngikutin jalan.

Dan ternyata motor di arahkan menuju daerah Kota. Tau sendiri donk kalau sore menjelang malam suasana Jakarta Kota itu seperti apa.

“Hubby, itu kenapa masing-masing ada nomornya ?”, tanyaku ketika melintasi daerah Glodok, dimana disepanjang jalan itu banyak kedai gerobak yang ada nomornya.

“Itu  gerobak yang jualan obat-obat begituan..”

“Oooo, banyak juga ya yang jualan…”

Kami terus melaju ke daerah Museum Fatahilah. Dan ternyata, daerah Jakarta Kota itu bagus banget kalau malam hari. Meskipun suasananya agak seram, gara-gara banyak rumah kuno yang tidak dirawat kali ya, tapi tetap saja seperti mempunyai magnet yang mampu menyeret banyak orang untuk mendatanginya.

Dan hal ini terbukti dengan banyaknya kerumunan orang yang menikmati jalanan Kota. Entah sekedar nongkrong ngeceng, menonton live music yang ada, atau yang secara khusus datang untuk sesi pemotretan, ngumpul bareng teman atau komunitas.

Setelah puas keliling daerah Kota dan menikmati riuhnya malam, kami melaju ke pusat kota Jakarta. Ketika melintas didaerah Monas…

“Say, mau ke Monas..??” tanya suami sambil mengambil jalur kiri.

“Ehmm.. ke Monas jam segini emang mau ngapain..??”

“Ya iseng aja”

“Ya udah deh…” jawabku sedikit ragu.

Setelah parkir, kami sedikit kaget. Karena ternyata Monas malam hari itu sangat rame oleh pengunjung. Bahkan banyak rombongan keluarga yang membawa tikar dan juga bantal. Hehehe kayaknya sih mau nginep di lapangan Monas.

Kami sempat menikmati jajanan tradisional khas Jakarta, kerak telor. Kalau menurut suami sih, rasanya lumayan enak. Cuman menurutku biasa saja. Maap ya Hubby untuk kali ini kita tidak sependapat :D .

Setelah puas makan kerak telor, kami masuk ke kawasan Monas. Sambil bergandeng tangan kami menyusuri jalan mengelilingi Monas. Disudut lapangan Monas, ada perlombaan off-road. Halang rintangnya menggunakan bebatuan buatan. Karena kurang menarik, kami hanya berhenti sebentar, lalu melanjutkan jalan.

Di sepanjang jalan banyak pedagang yang menggelar dagangannya. Seingatku dulu, pedagang itu tidak boleh memasuki kawasan Monas. Hanya diperbolehkan berdagang diluar pagar. Makanya kemaren sempet kaget juga, kok bisa pedagang itu menggelar di dalam. Baru besoknya dari berita -hari minggu, red-, aku tau bahwa ini disebabkan satpol PP yang ‘menghilang’.

Sekitar jam 10.15 kami pulang. Meskipun kami hanya berjalan mengelilingi Monas, aku merasa itu salah satu cara how to spend a quality time with husband. Murah meriah tapi sarat cinta (jangan lebay dehhh..) hihihi.

Engga perlu nyewa yacht mahal, gak perlu nginep di Hotel mewah, gak perlu candle light dinner di resto yang mahal. Cukup ke Monas, taman sejuta umat di Jakarta. Hihihi ngeles nih ceritanya, emang mampunya baru segitu :p.

No comments

No Comments

(Required)
(Required, will not be published)