Nov 6
Duhhh..
Beberapa waktu yang lalu, di metromini pas perjalanan pulang sehabis makan siang dengan suami, aku menemukan suatu hal yang sudah jarang di temui di Jakarta. Aku ketemu 2 anak yang sedang mengamen.
Pengamen, pemain musik, pembaca puisi -ato apapun itu namanya- di dalam kendaraan umum bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Sudah menjadi suatu ke-lumrah-an di Jakarta. Yang bikin beda beberapa hari yang lalu, aku melihat 2 anak itu mengamen bukan sekedar ‘mengamen’ -belibet gak sih bahasanya, hehe-
Maksudnya, aku melihat didiri mereka ada “tata susila” yang tertanam. Aku juga gak melihat mereka berpakaian yang semrawut dekil gitu. Meskipun baju mereka juga seadanya, tapi aku melihat mereka lebih bersih. Pas mereka dengan tidak sengaja nyenggol orang, spontan terdengar kata maaf dari mereka. Trus pas kantong plastik bekas permennya di isi, ada kata terima kasih pak / bu yang terdengar tulus. Dan ada lagi yang bikin aku terharu, mereka turun juga nunggu dulu busnya di berhentiin sama sopirnya, dan bukan atas permintaan mereka. Begitu turun mereka juga bilang.. “terima kasih ya bang”. Sungguh sangat kontras banged dengan penampilan maupun sikap dari kelompok pengamen sebelumnya yang notabene mereka lebih tuaan. Hiks.. kalo gak inget masih di dalem metromini, udah nangis aja deh. Pas cerita ke suami malemnya, masih aja rasa nyesek itu ada. Hawa2nya pengen nangissssss aja. Hehehe.. lebay banged yak.
Hal yang bikin aku terharu adalah.. ternyata ada lho di Jakarta, meskipun dibilang anak jalanan tapi masih tau sopan santun. Karena yang sering terlihat anak jalanan selalu di identikkan dengan hal2 yang berbau kekerasan, bengal, nakal, urakan dst. Tau sendiri kan gimana pengaruh televisi maupun lingkungan di Jakarta yang -menurutku- kurang sehat / baik untuk anak2.
Ahhhh… jadi inget waktu ada seorang sahabatku -cowok- yang maen ke kost dan waktu pulang berpapasan dengan Netta -cucunya Tante kostku- yang saat itu baru kelas 1 SD. Di depan temenku itu dia bilang “Siapa kak ? temennya ya ? kak Yani selingkuh yaaaa…??”. Trus pas dia ketemu sama suami -yang waktu itu belum jadi suami-, dia sempet nanya juga “Om mau nikah ya ? emang udah tunangan ? kok engga ada cincin tuangannya”.Â
Duhhhh.. spechless jadinya. Anak dengan umur segitu sudah “paham” apa2 yang sebenarnya belum perlu mereka pahami. Sedih sih dengernya, tapi ya gimana lagi.. paling cuman bisa ketawa2 aja kalo denger dia ngomong “dewasa” gitu. Bener2 anak korban sinetron.
Bicara tentang sinetron tidak lepas dari tayangan2 yang tidak mendidik -sorry untuk yang bekerja di dunia persinetronan-. Kenapa bisa aku claim begitu, coba lihat saja adegan2 yang masuk kategori tidak mendidik itu. Istri yang berani membentak2 suami / ortu / bahkan pembantu. Anak2 yang berani sama ortunya. Tidak adanya sensor untuk kata2 kasar (ex. brengsek dll), dan masih banyak yang laen. Aku gak suka sinetron, karena pasti capek sendiri kalo nonton. Soale pasti ngedumel protes gak karuan gara2 adegan2 yang tidak mendidik maupun yang tidak realistis itu. Eh suka protesnya bukan cuman ke sinetron aja sih, kalo ada iklan, berita, event kejadian2 yang di lihat gak “pas” juga sering protes. Dan parahnya protesnya kok ke suami ya
hehehe maapin aku yang suka protes ya suami :-*
Hoaaaaaaa…. kok jadi panjang juga ya ceritanya. Intinya controling dan bimbingan dari parent itu yang penting. Seperti orang bijak bilang “Anak tidak tumbuh dari kritikan, akan tetapi tumbuh dari contoh”.
2 comments2 Comments
Engga apa-apa kok masalah “protes” itu wajar – wajar aja. Salah satu fungsi peranku sebagai suami kan itu.
Seteju banget untuk “controling dan bimbingan dari parent itu yang penting”. Mudah – mudahan kita bisa nerapinnya nanti, amiiiinnn….
Aminnnn…
Thanks hubby Muachhh…