Kekuatan Dendam
Orang bilang, pembalasan itu akan jauh lebih kejam dari apa yang sudah di perbuat. Mungkin hal itu ada benarnya, karena efek dari dendam itu seperti kayu bakar untuk sebuah tungku niat dan tekad. Hanya saja dendam sering di intepretasikan negatif. Dendam di anggap sebagai penyakit hati, sama seperti rasa iri. Meski dianggap negatif, aku merasa sering menyimpan dendam juga iri. Aku sering merasa iri pada orang2 yang sukses. Aku iri ketika melihat orang2 disekitarku bisa sekolah tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Sampai pada akhirnya aku mendapati bahwa tidak selamanya dendam / iri itu buruk. Selama kita mampu memanage rasa itu, ternyata bisa memberikan dampak yang positif pada kita.
Dulu sekali ketika aku SD, di hari penerimaan lembar kertas berisikan NEM, aku memantapkan diri untuk terus sekolah sampai tinggi. Kemantapan itu sebenernya berawal dari “cambukan” dari ibu saat mengomentari NEMku. Saat itu Ibu berkomentar kenapa nilaiku jelek padahal selama 6 tahun di bangku sekolah dasar, hampir di setiap kenaikan kelas aku menduduki peringkat pertama. Kenapa nilaiku tidak sebagus nilai kakakku. Dan masih banyak kenapa lainnya. Mendapati begitu banyak kenapa, akhirnya timbul “dendam” di hati. Ya dendam untuk menjadi yang terbaik di antara anak2 Ibu.
Konsekuensi perealisasian “dendam” itu, ketika duduk di bangku menengah pertama, aku di anggap anak yang suka memberontak. Anak yang gak nurut. Gara2 aku yang beda dan melawan arus. Ketika anak perempuan seusiaku yang lain duduk manis di rumah sore hari, aku mengayuh sepeda anginku ke kampung sebelah untuk latihan menari. Ketika anak perempuan yang lain langsung menuju rumah ketika pelajaran sekolah usai, aku tidak langsung pulang, melainkan berkutat dengan alat2 dapur yang kubawa dari rumah untuk mempraktekkan resep2 baru (di sekolahku ada kegiatan ekstra tata boga). Dan gara2 sering pulang telat karena kegiatan masak di sekolah itu, aku sering kena marah Ibu. Tapi tetap saja itu tidak menghentikanku melakukan aktifitas itu. Bahkan hari minggu sering aku habiskan di sekolah untuk kegiatan pramuka. Meskipun dengan banyak kegiatan, aku tetap bisa membuktikan pada Ibu bahwa pelajaranku tidak terganggu, hal ini terbukti di setiap pembagian raport, dari kelas 1 sampai kelas 3 aku masih bisa masuk terbaik 3 besar. Bangku menengah pertama terlewatkan dengan NEM memuaskan.
Ketika duduk di bangku menengah atas, aku sudah bisa mencari uang saku sendiri dari menari. Ya… hasil kerja kerasku latihan menari mulai di perhitungkan orang. Bahkan sejak masih duduk di bangku menengah pertama, aku sudah sering di minta tampil menari di berbagai event. Dan ketika duduk di bangku menengah atas itulah aku mulai menerima bayaran sendiri. Ketika itu orang2 tidak lagi memandang aku sebagai si pemberontak.
Lulus SMA aku tidak bisa langsung melanjutkan pendidikan. Ibu melarang aku melanjutkan pendidikan dengan alasan aku perempuan, jadi tidak perlu sekolah sampai tinggi karena pada akhirnya akan kembali ke dapur juga. Aku tidak bisa menerima alasan Ibu, tetapi aku juga tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada alokasi dana untuk aku kuliah. Akhirnya aku memutuskan kerja, dengan niat sebagian ditabung untuk biaya kuliah.
Dan sekarang aku disini, di Jakarta dan tercatat sebagai mahasiswi di salah satu Universitas di dalamnya. Itu hanya satu dari sekian tangga yang harus aku daki. Masih banyak anak2 tangga menuju puncakdidepanku, tapi aku yakin aku akan sampai di sana kelak. Semoga.
nice avenger