Duhhh..
Beberapa waktu yang lalu, di metromini pas perjalanan pulang sehabis makan siang dengan suami, aku menemukan suatu hal yang sudah jarang di temui di Jakarta. Aku ketemu 2 anak yang sedang mengamen.
Pengamen, pemain musik, pembaca puisi -ato apapun itu namanya- di dalam kendaraan umum bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Sudah menjadi suatu ke-lumrah-an di Jakarta. Yang bikin beda beberapa hari yang lalu, aku melihat 2 anak itu mengamen bukan sekedar ‘mengamen’ -belibet gak sih bahasanya, hehe-
Maksudnya, aku melihat didiri mereka ada “tata susila” yang tertanam. Aku juga gak melihat mereka berpakaian yang semrawut dekil gitu. Meskipun baju mereka juga seadanya, tapi aku melihat mereka lebih bersih. Pas mereka dengan tidak sengaja nyenggol orang, spontan terdengar kata maaf dari mereka. Trus pas kantong plastik bekas permennya di isi, ada kata terima kasih pak / bu yang terdengar tulus. Dan ada lagi yang bikin aku terharu, mereka turun juga nunggu dulu busnya di berhentiin sama sopirnya, dan bukan atas permintaan mereka. Begitu turun mereka juga bilang.. “terima kasih ya bang”. Sungguh sangat kontras banged dengan penampilan maupun sikap dari kelompok pengamen sebelumnya yang notabene mereka lebih tuaan. Hiks.. kalo gak inget masih di dalem metromini, udah nangis aja deh. Pas cerita ke suami malemnya, masih aja rasa nyesek itu ada. Hawa2nya pengen nangissssss aja. Hehehe.. lebay banged yak.
Hal yang bikin aku terharu adalah.. (more…)